Anak Bosan Belajar Daring

Anak bosan belajar Daring, Wali Murid Stress

Warta Kita – Sudah satu setengah semester berlalu semenjak diberlakukannya pembatasan sosial akibat pandemi covid19. Berbagai dampak terasa dalam segala sisi kehidupan warga di Indonesia bahkan dunia, salah satu yang mendapat dampak besar adalah kegiatan belajar mengajar. Akibat sekolah yang ditutup, satu tahun lebih kiranya mayoritas siswa-siswi di Indonesia tidak dapat menginjakkan kakinya ke sekolah untuk belajar dan bertatap muka dengan guru-guru mereka.

Ini membuat para siswa-siswi yang biasanya sangat gembira saat libur, menjadi sangat rindu untuk bisa bersekolah di ruang kelas seperti biasa. Salah satu wali murid yang juga berprofesi sebagai guru SD mengatakan jika saat awal belajar daring (dalam jaringan) beliau tidak mendapat masalah, tapi semakin lama semakin berat karena anaknya yang saat ini duduk di kelas 4 SD mulai bosan dan mogok belajar. Bahkan sejak semester satu kemarin, disaat melakukan penilaian beberapa anak didiknya hanya mengumpulkan LKS kosong.

Hal lainnya disuarakan seorang Ibu yang berkegiatan sebagai Ibu PKK, beliau mengaku pusing hingga jatuh sakit akibat terlalu banyaknya perubahan yang terjadi pada tugas sekolah dan tugas pendataan warga.  Meski hanya berkegiatan di rumah, dampak anak sekolah daring juga terasa pada Ibu rumah tangga. Pasalnya, sang ibu harus membantu anaknya mengerjakan tugas dan mengajarinya. Akhirnya banyak pekerjaan rumah yang harus tertunda karena hal tersebut. Apalagi jika materi yang harus diajarkan tidak ia kuasai, “ujung-ujungnya ya harus googling’ ungkap salah satu Ibu. Belum lagi permintaan dari wali kelas yang terkadang meminta pengumpulan tugas atau penyampaian materi secara daring.

Tidak hanya harus selalu sedia kuota internet, orang tua juga dituntut untuk melek tekhnologi. “Mulai dari google classroom, google meet, zoom, ditambah juga aplikasi edit video jika guru minta tugas dalam bentuk video” Beberapa mengaku, aplikasi-aplikasi yang dua tahun lalu tidak mereka pakai, kini mulai menghiasi ponsel mereka. Karena tidak semua anak didik bisa melakukan belajar daring, beberapa sekolah juga melakukan metode belajar luring (luar jaringan). Seperti yang dilakukan saat pelaksanaan UKK (Ujian Kenaikan Kelas) saat ini.

Beberapa sekolah ada yang mengijinkan anak didiknya untuk mengerjakan ulangan di kelas, tapi dengan jumlah terbatas. Atau mendistribusikan soal ujian secara langsung, jika anak didiknya berada di zona merah. Untuk UKK yang dilakukan secara daring, pihak guru biasanya akan mengupload soal melalui  google form. Dan untuk jawaban, anak didik diminta untuk menulisnya di kertas lalu dikirimkan dalam bentuk foto (jpeg). Yang sering diingatkan beberapa guru adalah soal kejujuran dalam mengerjakan soal. Beberapa wali murid mengaku, jika mereka memang membantu anak mereka saat mengerjakan tugas.

“saya harap wali kelas juga maklum ya, soalnya anak saya juga belajarnya seadanya” ujar salah satu orang tua murid.

Karrna hal seperti itulah demi kelancaran belajar anaknya, beberapa orang tua murid memang rela mengeluarkan uang lebih untuk membayar les anaknya. Bahkan sengaja mengundang wali kelas atau guru privat untuk mengajari putra-putrinya di rumah. Tapi karena tidak semua keadaan ekonomi orang tua sama, beberapa orang tua memilih mengajari anak semampunya meskipun pihak guru berinisiatif menyelenggarakan les privat. Jika terus seperti ini, bagaimana nasib pendidikan di negeri kita? Demi masa depan negeri ini, mari kita terusA menaati peraturan pemerintah. Jangan demi kesenangan kita saat ini, kita melupakan kepentingan masa depan anak cucu kita.