Dampak Corona

Usaha Pedagang untuk bertahan di tengah gempuran covid19

Warta Kita – Lembang  Tidak bisa dipungkiri, covid19 mengubah cara hidup berbagai kalangan. Mulai dari karyawan, pegawai negeri hingga pengusaha. Semua harus memutar otak agar dapur tetap ngebul. Wartakita sempat mewawancarai beberapa pedagang dengan segmen yang berbeda mengenai perjuangan mereka dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari di tengah pandemi ini.

Sulit berjualan karena sekolah tutup

Satu setengah tahun berlalu sejak ditutupnya sekolah, hal ini berdampak tidak hanya pada kegiatan belajar mengajar, tapi juga pada pedagang kecil yang mengandalkan usahanya dari berjualan di sekolahan.

“Sebelum covid saya bisa menghabiskan sampai 2kg lebih adonan, sekarang 1/2 kg saja susah” Ujar Ginanjar (31) yang biasa berjualan crepes di sekolahan.

Ginanjar mengaku di awal Pandemi kemarin Ia sampai harus menjual perabotannya untuk membayar kosan dan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sempat pulang kampung selama beberapa bulan, tapi karena Ia tidak terbiasa bekerja di ladang, Ia pun kembali merantau. Ia juga mengaku sempat bekerja sebagai kuli proyek, tapi karena bayaran yang Ia terima tidak sesuai dengan tenaga yang harus Ia keluarkan, Ia segera keluar hanya setelah beberapa minggu bekerja. Walaupun hasilnya tidak seberapa akhirnya Ia memutuskan untuk kembali berjualan keliling, setidaknya cukup untuk sekedar makan dan menambah biaya sewa kamar. Tak hanya berjualan, untuk menambah penghasilan Ia terkadang bekerja untuk sekedar menambal lantai atau temannya yang bekerja sebagai tukang service elektronik.

Pegawai dipulangkan karena PSBB

Tak jauh dengan pedagang keliling, masalah juga dirasakan oleh pedagang yang mangkal. Salah satunya adalah masalah yang dirasakan oleh Aryanto (41), seorang pedagang ayam goreng tepung di Lembang-Bandung Barat. Di awal masa pandemi, yang bersangkutan terpaksa memulangkan sementara ketiga pegawainya. Harga ayam saat itu turun drastis, hal tersebut berpengaruh besar terhadap omset penjualannya.

Orang-orang jadi lebih memilih untuk membeli ayam mentah karena lebih murah. Ditambah lagi pemberlakuan PSBB dari pemerintah yang membuat pelanggannya sulit untuk keluar rumah, tentu ini makin menyulitkan penjualan. “Saya sempat kepikiran untuk mendaftarkan jualan saya ke go-food, dsb. Tapi berhubung pegawainya kurang, saya takut tidak bisa melayani pesanan dan malah jadi mengecewakan pelanggan”

Aryanto berjualan sejak tahun 2015, meski dihimpit oleh beberapa nama besar Ia masih bisa bertahan dan bahkan sanggup mengembangkan usahanya hingga bisa memiliki beberapa cabang.

Tapi gara-gara covid, Ia harus menutup salah satu cabangnya dan memberhentikan salah satu pegawainya.

“Ya gimana ya, bingung juga jika dipertahankan. Sewa tetap harus dibayar, gaji dan biaya operasional juga harus tetap jalan. Tapi omset malah menurun”

Beberapa bulan berjalan setelah PSBB, omsetnya kembali agak stabil, tapi setelah ada lagi pemberlakuan PPKM dia mengaku omsetnya kembali mengalami penurunan. “Mudah-mudahan covid di Indonesia bisa segera berakhir ya, soalnya saya pikir susahnya lebih-lebih daripada saat krisis moneter” Begitu ungkap pemilik usaha bernama Kabita’ Friedchicken tersebut.

Jualan Online juga terkena imbas

Tidak hanya orang-orang yang berjualan offline atau penjualan secara langsung,  ternyata covid juga membawa imbas besar pada pengusaha jualan online. Salah satunya terjadi pada pemilik toko online shop, Nai (28) yang merintis usahanya berjualan baju sejak tahun 2017. Pemilik online shop bernama Bajulaki shop di marketplace Lazada ini mengaku penjualannya berjalan lancar setelah satu tahun merintis.

“Merintis jualan online sejak tahun 2017, satu tahun merintis. 2018 jualan berjalan lancar, 2019 juga lancar. Dan pada akhir tahun 2019 ada kasus pandemi, sampai pertengahan 2020 omset naik turun, cari marketplace lain baru berjalan 3 bulan udah lancar, marketplacenya malah bangkrut. awal 2021 sampai sekarang malah makin parah”

Menurutnya hal tersebut terjadi karena persaingan yang makin ketat, orang-orang yang bermodal besar mulai melirik online shop sebagai sasaran. Mereka menggelar flash sale dengan harga yang sangat murah, hingga menyulitkan pedagang bermodal kecil sepertinya. Apalagi berjualan online juga mempunyai resiko yang lumayan tinggi.

“Sering kejadian, pembeli meretur barangnya. Tapi barang yang diretur berbeda dengan barang yang dikirim, atau terkadang barang yang saya kirim 5 yang diretur cuma ada 4”

Hal tersebut tentu membuat dia rugi, apalagi jika penjualannya sedikit, bukannya untung malah buntung. Ia mengaku sempat stress dan berpikir ingin pulang kampung, tapi karena kampungnya yang berada di seberang pulau Jawa, Ia pun harus berpikir dua kali karena biaya transportasi yang tidak sedikit.

“Ya terpaksa bertahan disini walau cuma cukup buat makan, tapi kalau sampai akhir tahun masih kayak gini, mau tidak mau harus pulang kampung”

Covid19 memang membawa dampak bagi berbagai aspek kehidupan, mulai kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Dampak tersebut begitu terasa apalagi bagi kaum menengah kebawah. Semoga pandemi ini segera berakhir, dan Negeri kita bisa menjadi Negeri lebih baik dan nyaman bagi semua warganya untuk hidup.